Definisi dan Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Definisi dan Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Definisi Perkembangan Anak Usia Dini - Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif, disebutkan bahwa definisi anak usia dini adalah anak sejak janin dalam kandungan sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dikelompokkan atas janin dalam kandungan sampai lahir, lahir sampai dengan usia 28 (dua puluh delapan) hari, usia 1 (satu) sampai dengan 24 (dua puluh empat) bulan, dan usia 2 (dua) sampai dengan 6 (enam) tahun. Menurut Mansur (2005) anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Masa kanak-kanak yang berlangsung dari usia 2-6 tahun, oleh orang tua disebut sebagai usia problematis, menyulitkan, atau main; oleh pendidik disebut usia pra sekolah; dan oleh ahli psikolog disebut sebagai prakelompok, penjelajah atau usia bertanya (Hurlock, 1980). Pada usia dini merupakan masa emas (golden age), karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahunyang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat atau masa emas (golden age).

Menurut Monks dkk. (1998), perkembangan diartikan sebagai “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat terulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai “proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan dan belajar”.

Desmita (2005) mendefinisikan perkembangan tidak terbatas pada pengertian perubahan secara fisik, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan, melalui pertumbuhan dan belajar.Berdasarkan definisi-definisi tersebut perkembangan diartikan sebagai proses perubahan secara terus menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah melalui pertumbuhan dan belajar. Berdasarkan definisi perkembangan dan anak usia dini di atas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia dini adalah proses perubahan secara terus menerus anak usia 0-6 tahun melalui pertumbuhan dan belajar.


Dalam perkembangan anak usia dini, terdapat aspek-aspek yang mengalami perkembangan yang meliputi aspek fisik atau motorik, aspek kognitif, aspek bahasa dan perkembangan emosi.

a. Perkembangan fisik atau motorik

Perkembangan fisik atau motorik akan mempengaruhi kehidupan anak baik secara langsung ataupun tidak langsung (Hurlock, 1978). Hurlock menambahkan bahwa secara langsung, perkembangan fisik akan menentukan kemampuan dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan orang lain. Perkembangan fisik meliputi perkembangan badanm otot kasar dan otot halus, yang selanjutnya lebih disebut dengan motorik kasar dan motorik halus (Suyanto, 2005). Perkembangan motorik kasar berhubungan dengan gerakan dasar yang terkoordinasi dengan otak seperti berlari, berjalan, melompat, memukul dan menarik. Motorik halus berfungsi untuk melakukan gerakan yang lebih spesifik seperti menulis, melipat, menggunting, mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu.

b. Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir (Mansur, 2005). Keat (dalam Purwanti dan Widodo, 2005) menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan proses mental yang mencakup pemahaman tentang dunia, penemuan pengetahuan, pembuatan perbandingan, berfikir dan mengerti. Proses mental yang dimaksud adalah proses pengolahan informasi yang menjangkau kegiatan kognisi, intelegensi, belajar, pemecahan masalah, dan pembentukan konsep. Hal ini juga menjangkau kreativitas, imajinasi dan ingatan.

c. Perkembangan bahasa

Penguasaan bahasa anak berkembang menurut hukum alami, yaitu mengikuti bakat, kodrat, dan ritme yang alami. Menurut Lenneberg (dalam Zubaidah, 2003), perkembangan bahasa anak berjalan sesuai jadwal biologisnya. Hal ini digunakan sebagai dasar mengapa anak pada umur tertentu sudah dapat berbicara, sedangkan pada umur tertentu belum dapat berbicara. Perkembangan bahasa tidaklah ditentukan pada umur, namun mengarah pada perkembangan motoriknya, namun perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Bahasa anak akan muncul dan berkembang melalui berbagai situasi interaksi sosial dengan orang dewasa (Kartono, 1995).

Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Suhartono (2005) menyatakan bahwa peranan bahasa bagi anak usia dini diantaranya sebagai sarana untuk berfikir, sarana untuk mendengarkan, sarana untuk berbicara dan sarana agar anak mampu membaca dan menulis. Melalui bahasa seseorang dapat menyampaikan keinginan dan pendapatnya pada orang lain.

d. Perkembangan sosio emosi

Emosi merupakan perasaan atau afeksi yang melibatkan perpaduan antara gejolak fisiologis dan gejala perilaku yang terlihat (Mansur, 2005). Perkembangan emosi memainkan peranan yang penting dalam kehidupan terutama dalam hal penyesuaian pribadi dan sosial anak dengan lingkungan. Adapun dampak perkembangan emosi adalah sebagai berikut: 1) emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari, 2) emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan, 3) emosi merupakan suatu bentuk komunikasi, 4) emosi mengganggu aktifitas mental, dan 6) reaksi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan (Soemantri, 2004).

Seiring bertambahnya usia anak, berbagai ekspresi emosi diungkapkan secara terpola karena anak sudah dapat mempelajari reaksi orang lain (Saputra dan Rudyanto, 2005). Reaksi emosi yang timbul berubah lebih proporsional, seperti sikap tidak menerima dengan cemberut dan sikap tidak patuh atau nakal. Saputra dan Rudyanto (2005) menambahkan beberapa ciri-ciri emosi pada anak antara lain: 1) emosi anak berlangsung singkat dan sementara, 2) terlihat lebih kuat dan hebat, 3) bersifat sementara, 4) sering terjadi, dan 5) dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.Ismail (dalam Harun, 2009) menyatakan bahwa pada tahap ini anak akan mengalami perkembangan yang positif dalam kreativitas, banyak ide, imajinasi, berani mencoba, berani mengambil resiko dan mudah bergaul. Pada tahap ini anak dapat menunjukkan sikap inisiatif, yaitu mulai lepas dari ikatan orang tua, bergerak bebas dan mulai berinteraksi dengan lingkungan. Mereka dituntut untuk mengembangkan perilaku yang diharapkan dalam lingkungan sosialnya, serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Sumber Tulisan:
  • Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
  • Kartono, K.1995. Psikologi Anak. Bandung: Mandar Maju
  • Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Monks, F.J., Knoers, A.M.P., dan Siti Rahayu Haditono. 1998. Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai Bagiannya. Yogyakarta: UGM Press
  • Suyanto, Slamet. 2005. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Yogyakarta: Hikayat Publishing
  •  Zubaidah, E., 2003, Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini, Yogyakarta: FIP UNY
Demikian uraian terkait dengan definisi dan sejumlah aspek-aspek perkembangan anak usia dini. Untuk pemahaman lebih lanjut, para pembaca dapat membacanya lewat sumber tulisan yang kami sertakan di atas.